Bincang SDM: Profesi di Bidang Perpajakan

Dua klub kemahasiswaan MM UGM Yogyakarta, Human Resource  Community dan Smart Center Club berkolaborasi menggelar acara “Bincang SDM: Profesi di Bidang Perpajakan” di Student Lounge kampus MM UGM, Jalan Teknika Utara No. 1, Yogyakarta, Rabu sore, 14 Mei 2014.

Di kampus Indonesia pertama yang meraih akreditasi AACSB itulah Adrianus Dicky Kristanto memandu talkshow yang menghadirkan dua pembicara, Rifqi Yustianto Setyandaru dan Arief Zhulfarwan. Dua pembicara ini berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka dari dua sisi berbeda, sektor publik dan sektor swasta.

Rifqi Setyanto mengupas apa itu pajak dan klasifikasinya, wajib pajak, nomor pokok wajib pajak, self-assessement dalam penghitungan pajak, hingga struktur organisasi kantor pelayanan pajak. Fahmi Arifin, seorang account representative (AR) dari Kantor Pelayanan Pajak di Jambi ikut menjelaskan peran seorang AR sebagai penghubung kantor pajak dan wajib pajak.

Arief Zhulfarwan lebih dalam menggali empat profesi terkait perpajakan yang bisa digeluti oleh para mahasiswa nantinya, yakni konsultan pajak, akuntan pajak, kuasa hukum pajak (tax litigation), dan trainer pajak.

Acara yang dibuka oleh Singgih Wijayana, Ph.D., Deputi Direktur MM UGM Kampus Jakarta itu menyedot perhatian sekitar 60 orang peserta yang terdiri dari para mahasiswa dan karyawan MM UGM Yogyakarta. Singgih mengatakan bahwa selama ini profesi yang berkaitan dengan perpajakan tidak banyak terpublikasi. Ia berharap bahwa profesi-profesi itu diisi oleh orang-orang muda, termasuk para lulusan MM UGM, yang kelak membawa perbaikan bagi Indonesia.

Komikanya lucu

HRC dan SCC berusaha mengemas acara lebih menarik dengan menyisipkan hiburan bagi audiens. Kalau sebelumnya SCC menyajikan musik akustik saat menggelar Sharing Session dengan Andre Suryana Yahya dari Edu Hostel, kolaborasi dua klub mahasiswa ini menceriakan hari Rabu itu dengan menempatkan dua komika, Hendry dan Adit Petir, di awal acara.

Panitia

Berikut ini adalah orang-orang di balik acara “Bincang SDM: Profesi di Bidang Perpajakan”:

Ketua Pelaksana Abdul Malik Sayuti | Wakil Ketua Pelaksana Adhi Bagus Nugroho | Sekretaris Putri Nareswari dan Duta Adya Swarani | Bendahara Susi Panduwinata | Acara Norhidayati dan Fikha Nandhia Frida Arisyenan | MC Esterlina Nainggolan dan Whendy Pamungkas | Moderator Adrianus Dicky Kristanto | Komika Hendry Sutrisno dan Adit Petir | Administrasi Ratna Merlangen dan Yudha Pratama | Perlengkapan Pratama Rizky dan Mikael Djati Hutomo | Fotografer Abi Kusno Punto Yunanto | Desainer grafis Tazkia Agung Fuady dan Pratita Rara Raina | Konsumsi Galuh Swasti Mahardhani dan Faznil Husna | Reporter Suryadi, Faninda Meilisa Putri, dan Jatmika Prajayastanda.

(c)2014 Suryadi van Batavia

A meaningful life in the new blog

Yesterday I activated my new blog here, under Gadjah Mada University domain. I was glad because now I can write in the new home instead of blogspot and blogdetik.  I was bored with blogspot and I found that my blog in blogdetik is not accessible from certain places, such as from Brisbane where I spent my life as a student in the University of Queensland last year.

In this blog, I will be writing about my life as an accountant, a translator, a student, and an artist. I will make them light and short to make sure that you will not be bored while reading the articles I post.

Enjoy! 🙂

UQU Winter Carnival adalah Ekka kecil-kecilan

Ada satu hari libur yang sangat khusus bagi negara bagian Queensland, Australia, yakni Royal Queensland Show atau lebih populer disebut Ekka.  Perayaan yang berlangsung selama 10 hari di bulan Agustus itu menyajikan beragam atraksi menarik, berupa hiburan (roller coaster dan sejenisnya), hal-hal yang berkaitan dengan pertanian, serta pendidikan.

Hal yang agak memberatkan adalah bahwa Ekka (yang berasal dari kata exhibition) memberlakukan tiket masuk yang cukup mahal, yakni $30 untuk orang dewasa dan $23 untuk mahasiswa.  Tidak jarang orang-orang mengurungkan niatnya lantaran tiket yang mahal ini, belum lagi mereka harus membayar untuk tiap atraksi.

UQ Union sebagai wadah induk untuk klub-klub kemahasiswaan di Universitas Queensland berinisiatif mengadakan sebuah karnaval dengan format mirip dengan Ekka namun dalam skala yang lebih kecil dan gratis!  Namanya UQU Winter Carnival. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk sama sekali dan semua atraksi dapat dinikmati secara cuma-cuma.  Satu-satunya yang dikenakan biaya adalah show bags, yakni tas yang dibuat khusus untuk acara tersebut, yakni $5.  Tahun ini, Universitas Queensland mengadakan UQU Winter Carnival pada hari Selasa, 25 Agustus 2015.

Berikut ini satu sketsa yang saya buat untuk mengabadikan acara itu. Rodeo banteng menggunakan banteng tiruan yang digerakan secara mekanik.

Boleh dibilang, UQ Union betul-betul tahu bagaimana cara menghibur mahasiswa yang tidak sanggup membeli tiket Ekka yang cukup mahal, apalagi kuliah di pekan kelima ini begitu menguras waktu, tenaga, dan pikiran karena tugas-tugas kuliah mulai memasuki masa jatuh tempo dan menghujani mahasiswa segala jurusan.

(c)2015 Suryadi van Batavia

The Gas Stripping Tower, Brisbane

Tanggal 22 Agustus 2015 menjadi Sabtu pertama saya kembali mengikuti Saturday Sketchout yang dihelat oleh Urban Sketchers Brisbane (USk Bne).  Sudah beberapa Sabtu sebelumnya saya melewati acara-acara ini lantaran bertepatan dengan beberapa acara yang saya ambil bagian di dalamnya, seperti UQISA Meet & Greet (menyambut mahasiswa baru UQ asal Indonesia) dan IndOz (festival kebudayaan Indonesia di Brisbane). 

Kebetulan pula hari itu ada satu keluarga yang menyertai saya, Ari dan Diana bersama puteri mereka yang sangat berbakat dalam menggambar, Alifa.  Saya ingin memperkenalkan Alifa dengan komunitas ini sehingga ia akan makin semangat menekuni keahliannya itu.

Namun rupanya rencana tidak berjalan mulus.  Kami turun bus di tempat yang salah.  Seharusnya kami turun di lokasi pasar pagi Boundary Street sesuai lokasi yang dijadwalkan oleh USk Bne, namun kami justru turun di pasar sebelumnya di Davies Park.  Saya yang baru pertama kali menengok pasar kaget a la Brisbane itu ikut saja dan baru sadar setelah keliling-keliling pasar, tidak menemukan satu pun sketser di lokasi itu.

Lantaran tidak mau merepotkan keluarga ini, akhirnya saya memutuskan untuk menunda perkenalan Alifa ke USk Bne karena tak tega menyaksikan mereka jalan kaki dari Davies Park ke Boundary Street yang jaraknya cukup jauh, sekitar satu kilometer. Lagi pula saat itu mereka sedang asik belanja sayur mayur.

Tiba di Boundary Street, saya mendapati J-j, Andrea, Graham, Brett, dan Leeanne sedang serius memoles kuas dan menggoreskan pena di atas buku sketsa.  Mereka merekam kegiatan kaum kota Brisbane ke bentuk dua dimensi di buku gambar.

Saya hanya mendapatkan sedikit waktu untuk menyapa mereka karena beberapa saat kemudian, pukul 11.00 kami berkumpul di Three Monkeys Cafe untuk sesi “Show and Tell”.  Sambil ngopi dan makan siang, kami banyak berbagi cerita tentang sketsa, perlengkapan menggambar, Bee Gees yang mengawali karir di Brisbane, hingga candaan seputar kerepotan saya menangkap ucapan penutur asli bahasa Inggris Australia.

Mengetahui bahwa sebelum tiba di Boundary Street saya sudah singgah di Davies Park, Leeanne memberitahu bahwa ada sebuah menara unik di taman itu bernama The Gas Stripping Tower. Ia menunjukkan gambar menara berbentuk silinder merah marun di telepon selulernya.  Dia bilang menara itu bagus sekali, sangat layak untuk disketsa.

Informasi itu menguatkan saya jalan balik ke Davies Park untuk mendapati Gas Stripping Tower yang dulu digunakan untuk memisahkan ter dan amonia dari gas batubara mentah. Beginilah penampakannya.



Hasilnya lumayan lah, kelihatan cantik walaupun saya jadi tidak terlalu perhatian pada detail gambar sebagaimana kalau saya membuat sketsa menggunakan pena gambar.

(c)2015 Suryadi van Batavia 

Berbagi Ceria dengan Anak-Anak Terbuang

Kita tentu ingat salah satu ayat terpopuler UUD 1945, yakni pasal 34 ayat (1) yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Tapi tahukah kita bahwa banyak orang di negeri ini yang sengaja menelantarkan anaknya sendiri? Sudah berapa kali kita membaca berita bayi dibuang di tempat sampah?

Komnas Perlindungan Anak mencatat, ada 162 kasus pembuangan bayi sepanjang tahun 2012.[1] Bila “beruntung”, manusia-manusia kecil terbuang itu akan tetap hidup dan ditemukan oleh orang lain, misalnya pemulung atau peronda malam, namun kebanyakan dari mereka tak sempat menikmati indahnya hidup karena telah meregang nyawa sebelum sempat diselamatkan. Lalu di mana mereka kini? Beberapa di antaranya sudah berada di keluarga angkat yang mengadopsi mereka setelah mendapatkan pengesahan pengadilan negeri. Sebagian lagi masih kehausan kasih sayang di panti-panti asuhan yang biasanya berupa lembaga swadaya masyarakat.

Berkunjung ke Yayasan Sayap Ibu 

Salah satu lembaga yang konsisten menolong balita terbuang (dan anak di atas lima tahun dengan catat ganda) adalah Yayasan Sayap Ibu.[2] Ke sanalah kami, para mahasiswa-mahasiswi MM UGM, di sela-sela hari kuliah, sejenak berbagi keceriaan dan ikut merasakan hausnya anak-anak itu akan kasih sayang orang tua.

Sulit menggambarkan perasaan saya dan teman-teman. Yang jelas, ada perasaan gregetan (dalam arti negatif) pada mereka yang telah dengan sengaja membuang darah dagingnya sendiri. Dalam hati cuma bisa berdoa semoga anak-anak terbuang itu hidup bahagia walau tak tahu siapa orang tuanya.

Bagaimana membantu mereka? 

Kamu pun bisa menolong mereka dengan berkunjung, berbagi keceriaan, atau sedikit menyisihkan sebagian rezeki melalui lembaga-lembaga semacam ini di sekitar kamu.

Referensi 

  1. Harian Terbit (22 Desember 2012): Sungguh Tega Sekali, 162 Bayi Dibuang di Tempat Sampah, diakses 15 November 2013. 
  2. Yayasan Sayap Ibu: About Yayasan Sayap Ibu, diakses 15 November 2013. 

(c)2013 Suryadi van Batavia @sirihkuning

Mahmud dan Bubur Ayam

Ada lima jenis sarapan yang secara acak saya pergilirkan tiap pagi: roti bakar, nasi uduk, bubur kacang hijau, ketupat sayur, dan bubur ayam.

Selasa ini, tukang bubur ayam yang tersenyum menyambut kedatangan saya. Di bawah rintik hujan, pedagang bubur generasi kedua ini mulai meracik.

“Pake kacang, Pak?”
“Pake.”
“Seledri?”
“Pakee..”
“Kecap?”
“Pakeee…”
“Sambel?”
“Pakeeee….!!!! Kenapa sih nanya-nanya melulu?!!!!?!”

Kang bubur berumur sekitar 25 tahun itu mengkeret….

“Ati ampela, Pak?” tanyanya lirih.
“Grrmblll..*&%@… aaargh…+%=@… Nggak. Duit gw cuman lapan rebu pas!”

Hehehe, ada dramatisasi di adegan ini. Tapi sebenarnya saya ingin sampaikan bahwa pedagang bubur ini berusaha memuaskan pelanggan dengan mengorbankan resep asli yang di restoran-restoran mapan semisal Krusty Krab begitu dibanggakan dan diterapkan secara konsisten. Di gerobak bubur, resep asli bubur sumedang atau cirebon harus rela bertekuk lutut di depan selera pelanggan. Jadilah racikan warisan sang bapak tak lagi murni.

Saat saya meneguk perlahan teh gratisnya, menghampirlah seorang mahmud (mamah muda). Pelanggan setia nampaknya.

“Bungkus, bang. Satu.”

Dengan cekatan, abang bubur meraih wadah styrofoam. Setelah menyendok bubur dan kuah kaldu, ia siap2 buka mulut tapi keduluan neng mahmud.

“Gak pake seledri, bang. Kecapnya dikit aja, sambelnya banyakin, atinya ajah ya, ampelanya gak usah….”

Di hadapan mahmud, tukang bubur lumpuh tak berdaya….

[SvB]

Keep an eye on your bag!

Do you carry your bag when going out?  Keep an eye on it while being in public area.  Pickpockets might be watching you, waiting for the chance to grab your valuables.

A padlock gives extra security to your bag by locking your zipper.
The pickpockets have many ways to steal your belongings. The easiest way is taking your wallet, cellphone, or anything else directly from the bag you do not put under your view, such as on your back or under your armpit.  In that situation, they can easily unzip your bag, search, and take anything you have.  You wouldn’t realize it until finding your zipper was open.

If they think that way takes time, they do not hesitate to cut your bag with a razor blade silently so they can grope around and get what they want.

For safety and comfort, I have some tips for you:

  • Carry your bag on your chest.  It is not only for your convenience but also to make sure your (big) backpack does not disturb others in crowd, such as on a bus.
  • Lock your zipper by a small padlock.  A padlock gives extra security to your bag by locking your zipper.
  • Use a bag with durable material that can not be cut or sliced easily.

But you do not have to be a paranoiac.  Mostly, Jakarta is nice and safe.  Enjoy your trip, enjoy Jakarta! 🙂

Photo by Suryadi van Batavia.

[SvB]
Thx for Rifqi and Vidy for the feedback.

Are you ready to enjoy Jakarta?

Jakarta, the capital of Indonesia.

Welcome to Jakarta!

Is this your first visit to Jakarta? You may wonder there are so many things happen in this Indonesia’s capital. You never experience such occurences in another place.  In Jakarta, you must see traffic jams all around the city.  It is getting heavier in rush hours.

People innocently cross the street anywhere, not on a crosswalk or by an overpass.  But if you’re doing so, a motorcyclist gives you a horn instead of squeezing the brake lever and allows you to cross.  What a terrible place.

Jakarta is my hometown. For years, I have been keeping a spirit to tell you about this city.  I want you to know how to feel at ease, to make yourself comfortable while you stay. But I have no enough time or vocabulary to write about it. But I do not want to put off it any longer.  I have to press my keyboard and post them right now.

Here is my to-do list:

So, if you find this is useful, please let me know by leaving any comments.  Thanks.

Photo by Suryadi van Batavia.

[SvB]
Thx for Rifqi, Vidy, and Arie for the feedback.